Setiap Musim Punya Jejak

Kamis, 03 Oktober 2013

Winter In Tokyo (Prologue)




PROLOG


Musim dingin di Tokyo tak pernah benar-benar melegakan, terlalu dingin, terlalu butuh banyak selimut untuk meringkuk.

Mulai dari jam 5 pagi, salju dengan butiran-butiran besar mulai berpartisipasi mengolesi aspal layaknya selai susu vanilla dengan campuran bubuk gula manis.

Angin tak lupa berpartisipasi juga untuk meniupkan helai demi helai ranting yang sudah tak berdaun. Walaupun begitu, Amaliya Putri Sukendar tetap lurus berjalan walau dengan alas kaki tipis pada suhu yang sudah mencapai minus derajat celcius.

Mencoba bersikap tegar walaupun tubuh menggigil, ia merapatkan syal dan sweater tebalnya yang mulai digigit kecil oleh dinginnya malam.

Ia ingin cepat-cepat sampai rumah, membuat ramen* atau kocha* atau mungkin makan onigiri* panas. Perutnya berbunyi hanya dengan memikirkannya.

Belum lagi, tangannya pegal karena seharian penuh membawa kamera dan bag lukisan. Sedang ada perayaan Hanabi* di Tokyo Disneyland mulai dari jam 7 sampai jam 12 malam demi menyambut hari ke 15 masuknya musim dingin.

Sebagai fotografer utus yang handal, ia harus standby di tempat agar tak kehilangan event dan berlembar-lembar yen yang menopang kehidupannya sehari-hari.

Setelah berpetualangn di Tokyo Disneyland, ia lagi-lagi harus segera hengkang secepat mungkin demi mengejar sunset dari Kastil Himeji. Di sinilah sumber penderitaan dimulai.

Ia tahu, seharusnya minim kesempatan untuk masuk ke Kastil Himeji tanpa ada jadwal janji terlebih dahulu, apa lagi dipagi buta di mana kebanyakan orang sudah mulai terlelap karena lelah melaksanakan aktivitas sebelumnya, tapi, karena kekeras kepalaanya, apapun bisa terjadi.

Ia memang bekerja sebagai fotografer utus, diutus oleh perusahaan Seni dan Budaya yang bergerak di bawah kendali Pemerintahan Indonesia yang kebetulan menjalin kerjasama dengan Perusahaan Seni dan Budaya Jepang. Banyak yang ikut andil, termasuk temannya Putra Danna Tautobing, Annisa Agustin, dan si kembar Alex dan Lexa Wijaya. Ia kebetulan ditunjuk sebagai juru fotografer. Namun, sayang sekali, mereka tak satu apartemen karena lingkup kerja mereka yang berbeda.

Tahun lalu, tempatnya bekerja, bekerja sama dengan Pemerintahan Albania, syukur saja ia tak kena tunjuk untuk mengemban tanggung jawab, kalau ya, ia akan mati kedinginan karena perubahan suhu yang sangat ekstrem.

Walaupun, membawa nama perusahaan dan digaji tak kecil, tetap saja biaya hidup ia yang tanggung sendiri. Ironisnya, entah mengapa gajinya tak pernah sampai untuk membeli peralatan melukis, walau pensil melukis sekalipun.

Ia juga adalah pelukis walau tak seprofesional Kenju Kazumune atau Katsushika Hokusai atau bahkan Satoshi Hino. Sederet nama pelukis terkenal di negeri Sakura ini.

Ia kadang melelangnya jika diadakan Nagasaki Kunchi Fastival atau Takayama Autumn Matsuri Festival yang diadakan di bulan oktober, mulai tanggal 7 sampai tanggal 22. Dipastikan, dia akan mendapatkan banyak yen saat itu.

Menghela napas lega, ia berlari kecil ketika pintu rumahnya sudah mulai terlihat.

Rumah yang ia maksud bukanlah rumah besar dengan kamar-kamar banyak, lengkap ruang tengah, ruang tamu, dapur dan ruang makan dipisah. Bukan seperti itu. Rumah itu adalah apartemen kecil yang terletak di gedung apartemen setinggi dua lantai, dengan nomor apartemen yang alih-alih di mulai dari nomor 001, melainkan dari nomor 401,  402 sampai 410.

Bentuk gedung apartemennya berhadap-hadapan, 5 kamar di sebelah utara, dan 5 kamar di sebelah selatan. Kamarnya terletak di apartemen nomor 405, sedangkan kamar nomor 401 sudah ditempati oleh pasangan suami istri, kamar nomor 402 dan 403 ditempati oleh dua siswi yang menuntut ilmu di SMA Nakamura, sedangkan kamar 404, 406 serta 407 di tempati oleh para Mahasiswa Universitas Tokyo. Kamar 407 di tempati oleh pemilik apartemen dan kamar 409 dan 410 kosong.

Kamar Amaliya terletak di sebelah selatan paling pojok lantai dua. Ia sengaja memilih kamar itu dikarenakan sunset yang selalu ia tunggu kemunculannya, setiap menjelang fajar paling terlihat mantap dari kamar 405. Walau yah, ia harus menguras tenaga menaiki tangga lapuk yang bau pengap dan tak terlalu lebar. Tapi, itu semua rasanya terbayar.

Jika ada yang bertanya, apakah ia suka sunset? Jawabannya adalah sangat. Namun, sayang sekali di musim dingin ini, ia harus mengendalikan diri ekstra kuat agar tak terbang ke Hokkaido setiap paginya hanya demi menyaksikan sunset indah tapi menguras kantongnya tak kalah ekstra cepat seperti beberapa minggu lalu.
Ia membuka kantung kecil yang ada di bag lukisannya, mencari-cari kunci dengan gantungan Neko* dan Nyanmaru* sedang berpelukan kasih.

"Ama-neechan*." Amaliya tersenyum kecil. Ai Shiroi, siswa SMA Nakamura yang menempati kamar 403 menyapanya. Membalikkan badannya, ia tak heran lagi ketika mendapati kantung panda di bawah mata tetangga apartemennya itu.

"Ini terlalu pagi untuk menyapa, Shiroi-chan*." Membuka pintu apartemen, Amaliya siap untuk tidur.
Hari ini sangat menguras tenaga, mandi air hangat, minum ocha* panas dan tidur di atas futon* adalah tujuan hidupnya untuk saat ini.

"Ama-neechan, aku sengaja menunggu Oneechan*. Aku tahu Oneechan akan pulang pagi-pagi sekali mengingat ini malam Hanabi. Tapi, err... Apakah Oneechan masih sibuk untuk membimbingku?" kata Shiroi sambil menautkan kedua tangannya di depan dada, tanda ia sedang berusaha keras agar tak terlihat gugup, sayangnya tak begitu berhasil.

Ia tersenyum. Shiroi gadis lugu nan cantik, selalu mengingatkannya pada juniornya dulu saat menuntut ilmu di Universitas Indonesia. Dilla Larasatin. Apa kabarnya gadis itu ya? Apakah dia masih mengalami konflik dengan keluarganya? Atau dia sudah berada dipelaminan dengan Tom Dasanagara sesuai titah keluarganya? Atau jangan-jangan dia kabur dan kawin lari dengan Bayu Saputra?

Amaliya tersenyum kecil ketika mebayangkan Dilla, Bayu dan anak-anak mereka dalam rumah kecil sederhana penuh cinta.

"Oneechan?"

Amaliya tersenyum lebar. "Tidurlah, Shiroi-chan, bukankah kau ada kelas jam 9 nanti?" katanya pelan. "Aku ada jam kosong sabtu sore, hari yang indah untuk Girls Day bukan?" lanjutnya dengan suara menyerupai bisikan. Mencoba menghasilkan efek dramatisir.

"Benarkah Oneechan? Arigatou* Oneechan," jawab Shiroi sambil membungkukkan badannya 90 derajat, senyum lebar terpatri di bibirnya.

Gadis itu membalikkan badannya dan berlari ke arah kamar nomor 403 yang tertulis jelas di pintu dengan kayu jati, tepat di samping kamarnya. "Oyasumi* Oneechan. Mimpi indah," kata gadis itu sambil melambaikan tangan ke arahnya sebelum benar-benar menghilang tertelan pintu dengan tulisan 'Ai Shirou' di atasnya.

Amaliya tersenyum kecil. Gadis itu enerjik sekali. Tapi, Amaliya bisa katakan ia sangat salut dengan keinginan dan kerja keras anak itu.

Shiroi sangat menyukai foto, selalu mengakses foto berbau Vintage di internet, setiap saat. Jadi, ketika mengetahui ia seorang fotografer, tanpa membuang kesempatan, Shiroi mendatanginya dan memintanya untuk mengajarinya cara mengambil gambar biasa agar terlihat bernilai dan luar biasa.

Tapi, fakta bahwa Amaliya sangat sibuk tak menyurutkan keinginannya, ia tetap bertekad untuk belajar sampai rela tak tidur demi menunggunya seharian penuh, sampai pagi menjelang, bahkan ketika ia harus berangkat ke sekolah beberapa jam lagi.

Semangatnya, mengingatkan Amaliya pada sahabat baik yang sudah ia anggap sebagai saudara perempuannya sendiri, Dilla, apa kabarnya ya? Terlebih lagi, di mana dia sekarang?

Menghela napas lelah, ia masuk ke dalam kamar dan mengikuti jejak Shiroi, menutup pintu dengan tulisan ‘Amaliya Putri Sukendar' di atasnya.

"Oyasumi Mata*, Shiroi-chan."


BERSAMBUNG
.
.
.


|Kamus kecil|

Ramen : Mi Jepang yang berbentuk tipis. 
Kocha : Teh merah. 
Onigiri : Nasi kepal. 
Hanabi : Perayaan kembang api. 
Neko : Kucing. 
Nyanmaru : Tokoh animasi yang di sukai oleh Yuki Tempoin dalam anime Code Breaker. 
Oneechan : Panggilan untuk wanita yang lebih tua. Kakak. 
-Chan : Suffix yang sering digunakan untuk orang yang dikasihi atau dikenal dekat. 
-Neechan : Suffix yang sering digunakan untuk wanita yang lebih tua yang dikasihi atau dikenal dekat. 
Ocha : Teh hijau. 
Futon : Jenis perangkat tidur tradisional jepang yang digelar di atas tatami, tempat tidur atau kasur. Arigatou : Terimakasih. 
Oyasumi : Selamat tidur. 
Oyasumi Mata : Selamat tidur juga.
Read More

© Setiap Musim Punya Jejak, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena