PROLOG
Musim dingin di
Tokyo tak pernah benar-benar melegakan, terlalu dingin, terlalu butuh banyak
selimut untuk meringkuk.
Mulai dari jam 5
pagi, salju dengan butiran-butiran besar mulai berpartisipasi mengolesi aspal
layaknya selai susu vanilla dengan campuran bubuk gula manis.
Angin tak lupa
berpartisipasi juga untuk meniupkan helai demi helai ranting yang sudah tak
berdaun. Walaupun begitu, Amaliya Putri Sukendar tetap lurus berjalan walau
dengan alas kaki tipis pada suhu yang sudah mencapai minus derajat celcius.
Mencoba bersikap
tegar walaupun tubuh menggigil, ia merapatkan syal dan sweater tebalnya
yang mulai digigit kecil oleh dinginnya malam.
Ia ingin
cepat-cepat sampai rumah, membuat ramen* atau kocha* atau mungkin
makan onigiri* panas. Perutnya berbunyi hanya dengan memikirkannya.
Belum lagi,
tangannya pegal karena seharian penuh membawa kamera dan bag lukisan.
Sedang ada perayaan Hanabi* di Tokyo Disneyland mulai dari jam 7 sampai
jam 12 malam demi menyambut hari ke 15 masuknya musim dingin.
Sebagai fotografer
utus yang handal, ia harus standby di tempat agar tak kehilangan event
dan berlembar-lembar yen yang menopang kehidupannya sehari-hari.
Setelah
berpetualangn di Tokyo Disneyland, ia lagi-lagi harus segera hengkang secepat
mungkin demi mengejar sunset dari Kastil Himeji. Di sinilah sumber
penderitaan dimulai.
Ia tahu, seharusnya
minim kesempatan untuk masuk ke Kastil Himeji tanpa ada jadwal janji terlebih
dahulu, apa lagi dipagi buta di mana kebanyakan orang sudah mulai terlelap
karena lelah melaksanakan aktivitas sebelumnya, tapi, karena kekeras
kepalaanya, apapun bisa terjadi.
Ia memang bekerja
sebagai fotografer utus, diutus oleh perusahaan Seni dan Budaya yang bergerak
di bawah kendali Pemerintahan Indonesia yang kebetulan menjalin kerjasama
dengan Perusahaan Seni dan Budaya Jepang. Banyak yang ikut andil, termasuk
temannya Putra Danna Tautobing, Annisa Agustin, dan si kembar Alex dan Lexa
Wijaya. Ia kebetulan ditunjuk sebagai juru fotografer. Namun, sayang sekali, mereka
tak satu apartemen karena lingkup kerja mereka yang berbeda.
Tahun lalu,
tempatnya bekerja, bekerja sama dengan Pemerintahan Albania, syukur saja ia tak
kena tunjuk untuk mengemban tanggung jawab, kalau ya, ia akan mati kedinginan
karena perubahan suhu yang sangat ekstrem.
Walaupun, membawa
nama perusahaan dan digaji tak kecil, tetap saja biaya hidup ia yang tanggung
sendiri. Ironisnya, entah mengapa gajinya tak pernah sampai untuk membeli
peralatan melukis, walau pensil melukis sekalipun.
Ia juga adalah
pelukis walau tak seprofesional Kenju Kazumune atau Katsushika Hokusai atau
bahkan Satoshi Hino. Sederet nama pelukis terkenal di negeri Sakura ini.
Ia kadang
melelangnya jika diadakan Nagasaki Kunchi Fastival atau Takayama
Autumn Matsuri Festival yang diadakan di bulan oktober, mulai tanggal 7
sampai tanggal 22. Dipastikan, dia akan mendapatkan banyak yen saat itu.
Menghela napas
lega, ia berlari kecil ketika pintu rumahnya sudah mulai terlihat.
Rumah yang ia
maksud bukanlah rumah besar dengan kamar-kamar banyak, lengkap ruang tengah,
ruang tamu, dapur dan ruang makan dipisah. Bukan seperti itu. Rumah itu adalah
apartemen kecil yang terletak di gedung apartemen setinggi dua lantai, dengan
nomor apartemen yang alih-alih di mulai dari nomor 001, melainkan dari nomor
401, 402 sampai 410.
Bentuk gedung
apartemennya berhadap-hadapan, 5 kamar di sebelah utara, dan 5 kamar di sebelah
selatan. Kamarnya terletak di apartemen nomor 405, sedangkan kamar nomor 401
sudah ditempati oleh pasangan suami istri, kamar nomor 402 dan 403 ditempati
oleh dua siswi yang menuntut ilmu di SMA Nakamura, sedangkan kamar 404, 406
serta 407 di tempati oleh para Mahasiswa Universitas Tokyo. Kamar 407 di
tempati oleh pemilik apartemen dan kamar 409 dan 410 kosong.
Kamar Amaliya terletak
di sebelah selatan paling pojok lantai dua. Ia sengaja memilih kamar itu
dikarenakan sunset yang selalu ia tunggu kemunculannya, setiap menjelang
fajar paling terlihat mantap dari kamar 405. Walau yah, ia harus menguras
tenaga menaiki tangga lapuk yang bau pengap dan tak terlalu lebar. Tapi, itu
semua rasanya terbayar.
Jika ada yang
bertanya, apakah ia suka sunset? Jawabannya adalah sangat. Namun, sayang
sekali di musim dingin ini, ia harus mengendalikan diri ekstra kuat agar tak
terbang ke Hokkaido setiap paginya hanya demi menyaksikan sunset indah
tapi menguras kantongnya tak kalah ekstra cepat seperti beberapa minggu lalu.
Ia membuka kantung
kecil yang ada di bag lukisannya, mencari-cari kunci dengan gantungan Neko*
dan Nyanmaru* sedang berpelukan kasih.
"Ama-neechan*."
Amaliya tersenyum kecil. Ai Shiroi, siswa SMA Nakamura yang menempati kamar 403
menyapanya. Membalikkan badannya, ia tak heran lagi ketika mendapati kantung
panda di bawah mata tetangga apartemennya itu.
"Ini terlalu
pagi untuk menyapa, Shiroi-chan*." Membuka pintu apartemen, Amaliya
siap untuk tidur.
Hari ini sangat
menguras tenaga, mandi air hangat, minum ocha* panas dan tidur di atas futon*
adalah tujuan hidupnya untuk saat ini.
"Ama-neechan,
aku sengaja menunggu Oneechan*. Aku tahu Oneechan akan pulang pagi-pagi
sekali mengingat ini malam Hanabi. Tapi, err... Apakah Oneechan masih sibuk
untuk membimbingku?" kata Shiroi sambil menautkan kedua tangannya di depan
dada, tanda ia sedang berusaha keras agar tak terlihat gugup, sayangnya tak
begitu berhasil.
Ia tersenyum.
Shiroi gadis lugu nan cantik, selalu mengingatkannya pada juniornya dulu saat
menuntut ilmu di Universitas Indonesia. Dilla Larasatin. Apa kabarnya gadis itu
ya? Apakah dia masih mengalami konflik dengan keluarganya? Atau dia sudah
berada dipelaminan dengan Tom Dasanagara sesuai titah keluarganya? Atau
jangan-jangan dia kabur dan kawin lari dengan Bayu Saputra?
Amaliya tersenyum
kecil ketika mebayangkan Dilla, Bayu dan anak-anak mereka dalam rumah kecil
sederhana penuh cinta.
"Oneechan?"
Amaliya tersenyum
lebar. "Tidurlah, Shiroi-chan, bukankah kau ada kelas jam 9
nanti?" katanya pelan. "Aku ada jam kosong sabtu sore, hari yang
indah untuk Girls Day bukan?" lanjutnya dengan suara menyerupai
bisikan. Mencoba menghasilkan efek dramatisir.
"Benarkah
Oneechan? Arigatou* Oneechan," jawab Shiroi sambil membungkukkan
badannya 90 derajat, senyum lebar terpatri di bibirnya.
Gadis itu
membalikkan badannya dan berlari ke arah kamar nomor 403 yang tertulis jelas di
pintu dengan kayu jati, tepat di samping kamarnya. "Oyasumi*
Oneechan. Mimpi indah," kata gadis itu sambil melambaikan tangan ke
arahnya sebelum benar-benar menghilang tertelan pintu dengan tulisan 'Ai
Shirou' di atasnya.
Amaliya tersenyum
kecil. Gadis itu enerjik sekali. Tapi, Amaliya bisa katakan ia sangat salut
dengan keinginan dan kerja keras anak itu.
Shiroi sangat
menyukai foto, selalu mengakses foto berbau Vintage di internet, setiap
saat. Jadi, ketika mengetahui ia seorang fotografer, tanpa membuang kesempatan,
Shiroi mendatanginya dan memintanya untuk mengajarinya cara mengambil gambar
biasa agar terlihat bernilai dan luar biasa.
Tapi, fakta bahwa
Amaliya sangat sibuk tak menyurutkan keinginannya, ia tetap bertekad untuk belajar
sampai rela tak tidur demi menunggunya seharian penuh, sampai pagi menjelang,
bahkan ketika ia harus berangkat ke sekolah beberapa jam lagi.
Semangatnya,
mengingatkan Amaliya pada sahabat baik yang sudah ia anggap sebagai saudara
perempuannya sendiri, Dilla, apa kabarnya ya? Terlebih lagi, di mana dia
sekarang?
Menghela napas
lelah, ia masuk ke dalam kamar dan mengikuti jejak Shiroi, menutup pintu dengan
tulisan ‘Amaliya Putri Sukendar' di atasnya.
"Oyasumi
Mata*, Shiroi-chan."
BERSAMBUNG
.
.
.
|Kamus kecil|
Ramen : Mi Jepang yang berbentuk tipis.
Kocha : Teh
merah.
Onigiri : Nasi kepal.
Hanabi : Perayaan kembang api.
Neko
: Kucing.
Nyanmaru : Tokoh animasi yang di sukai oleh Yuki Tempoin
dalam anime Code Breaker.
Oneechan : Panggilan untuk wanita yang lebih
tua. Kakak.
-Chan : Suffix yang sering digunakan untuk orang yang
dikasihi atau dikenal dekat.
-Neechan : Suffix yang sering digunakan
untuk wanita yang lebih tua yang dikasihi atau dikenal dekat.
Ocha : Teh
hijau.
Futon : Jenis perangkat tidur tradisional jepang yang digelar di
atas tatami, tempat tidur atau kasur. Arigatou : Terimakasih.
Oyasumi
: Selamat tidur.
Oyasumi Mata : Selamat tidur juga.
